Kamis, 29 November 2012

RANCANGAN LUAR BIASA PADA MATA


Misalnya, jika kita berada di tempat gelap, iris melebar
untuk mendapatkan/menyerap cahaya sebanyak
mungkin. Saat cahaya semakin terang, ia menguncup
untuk mengurangi jumlah cahaya yang datang
mengenai mata.
 
Sistem penyesuaian otomatis pada iris bekerja
sebagai berikut: sejumlah cahaya mengenai mata,
sebuah impuls syaraf mengirimkan ke otak dan
memberi pesan tentang keberadaan dan ketajaman
cahaya tersebut. Otak segera mengirim kembali suatu
sinyal dan perintah tentang seberapa banyak otot di
sekitar iris akan berkontraksi.
Mekanisme mata lainnya yang bekerja bersamaan
dengan struktur ini adalah lensa. Tugas lensa yaitu
untuk memfokuskan cahaya yang mengenai mata ke
lapisan retina di belakang mata. Karena gerakan otot
di sekitar lensa, sinar yang datang ke mata dari
berbagai sudut yang berbeda dapat selalu difokuskan
ke retina.
Semua sistem yang telah kita bahas di atas jauh
lebih unggul dibandingkan peralatan mekanis yang
dirancang dengan teknologi terkini yang meniru mata.
Bahkan sistem tiruan tercanggih pun di dunia ini tetap
merupakan sistem sederhana dan kuno dibandingkan
dengan mata.
Bila kita renungkan upaya dan ilmu pengetahuan
yang telah diberikan dalam pembuatan sistem buatan
ini, kita dapat memahami dengan penciptaan unggul
macam apa mata itu dibuat.
Bila kita amati sebuah sel tunggal dalam mata pada
tingkat mikroskopis, keunggulan penciptaan ini lebih
jauh diungkapkan.
Bayangkan kita melihat sebuah mangok kristal
penuh buah-buahan. Cahaya datang dari mangkok
ke mata kita melalui kornea dan iris dan difokuskan
pada retina oleh lensa.
Lalu, apa yang terjadi dalam retina sehingga selsel
retina dapat menangkap cahaya?
Ketika partikel cahaya, juga disebut photon,
melewati sel-sel pada retina, partikel-partikel ini
menghasilkan efek merambat seperti deretan domino
yang disusun dengan sangat hati-hati satu per satu.
Bagian pertama domino dalam sel retina ini adalah
molekul yang disebut 11-cis-retina. Ketika sebuah
photon cahaya berinteraksi dengannya, molekul ini
berubah bentuk. Hal ini mendorong perubahan bentuk
dari protein lainnya, yakni rhodopsin, menjadi ikatan
kuat. Sekarang, rhodopsin berubah bentuk sehingga
ia dapat bergabung dengan protein lainnya, disebut
transducin, yang telah ada dalam sel tersebut, tetapi
tidak dapat berinteraksi sebelumnya karena bentuknya
tidak sesuai. Setelah penggabungan ini, molekul
lainnya disebut GDP juga ikut bergabung dalam
kelompok ini.
Sekarang, dua protein – rhodopsin dan transducindan
molekul kimia bernama GDP telah berikatan.
Akan tetapi proses ini baru saja dimulai. Gugusan
yang disebut GDP kini memiliki bentuk yang sesuai
untuk berikatan dengan protein lain yang disebut phosphodiesterase,
yang selalu berada di dalam sel. Setelah
pengikatan ini, bentuk molekul yang dihasilkan akan
menyebabkan sebuah mekanisme yang mengawali
serangkaian reaksi kimia dalam sel.
Mekanisme ini mengubah konsentrasi ion dalam
sel dan menghasilkan energi listrik. Energi ini memicu
syaraf-syaraf yang terletak pada bagian belakang sel
retina. Akibatnya, bayangan yang datang pada mata
sebagai photon cahaya mempersiapkan perjalanannya
dalam bentuk sinyal listrik. Sinyal ini mengandung
informasi visual mengenai benda di luar.
Agar penglihatan bisa terjadi, sinyal listrik yang
dihasilkan dalam sel retina harus dirambatkan ke pusat
penglihatan di otak. Akan tetapi, sel syaraf tidak secara
langsung berhubungan satu sama lain. Terdapat celah
kecil di antara titik-titik ikatannya. Lalu bagaimana
pemicu listrik ini melanjutkan perjalanannya?
Pada titik ini, susunan kerja yang kompleks
terbentuk. Energi listrik diubah menjadi energi kimia
tanpa kehilangan sedikitpun informasi yang sedang
dibawa dan di sini informasi tersebut dipindahkan
dari satu syaraf ke syaraf berikutnya. Pengangkut
kimiawi yang terletak di titik-titik hubung sel syaraf
mengantarkan informasi yang terkandung dalam
stimulus yang berasal dari mata dari satu syaraf ke
syaraf lainnya dengan sukses. Ketika dipindahkan ke
syaraf berikutnya, stimulus kembali diubah menjadi
sinyal listrik dan melanjutkan perjalanannya hingga
mencapai titik hubung lainnya.
Dengan membuat jalan ke pusat penglihatan di
otak dengan cara ini, sinyal diperbandingkan dengan
informasi di pusat memori dan bayangan diartikan.
Akhirnya kita melihat sebuah mangkok penuh
buah-buahan, yang kita bicarakan sebelumnya,
dengan bantuan sistem sempurna yang terbuat dari
ratusan pernik-pernik kecil.
Dan semua kerja mengagumkan ini terjadi dalam
sepersekian detik.
Selanjutnya, dikarenakan tindakan melihat terjadi
terus-menerus, sistem tersebut mengulang dan
mengulang lagi tahap-tahap ini. Dengan kata lain,
molekul-molekul yang memainkan satu bagian dalam
rantai reaksi dalam mata dikembalikan lagi ke tempat
asalnya setiap saat dan reaksi mulai dari awal lagi.
Tentu saja pada saat yang sama sejumlah kerja
rumit lainnya terjadi di bagian lain tubuh kita.
Barangkali kita secara serentak mendengar suara dari
bayangan yang kita lihat, dan sambil lalu kita
mencium aromanya dan marasakan sentuhannya.
Sementara itu, jutaan kerja dan reaksi lainnya harus
terus berlanjut tanpa gangguan dalam tubuh kita agar
kita terus hidup.
Ilmu pengetahuan primitif pada masa Darwin
tidak mengetahui hal ini sedikit pun. Meski demikian,
bahkan Darwin menyadari rancangan luar biasa pada
mata dan mengakui keputusasaannya itu dalam
sebuah surat yang ditulisnya kepada Asa Grey pada 3
April 1860, di dalamnya ia mengatakan: Memikirkan
tentang mata membuat saya demam.
Sifat-sifat biokimia pada mata yang telah
ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern memberi
pukulan lebih besar bagi paham Darwinisme dari yang
pernah dibayangkan oleh Darwin.
Keseluruhan proses penglihatan yang telah kita
ringkas pada penjelasan ini sesungguhnya jauh lebih
rumit bila dirinci. Namun, mudah-mudahan ringkasan
ini cukup untuk menggambarkan bagaimana hebatnya
sistem yang telah diciptakan dalam tubuh kita.
Reaksi yang terjadi di dalam mata begitu rumitnya
dan jelas menerangkan bahwa sungguh tidak masuk
akal untuk berpikir bahwa ini merupakan hasil
peristiwa
Michael Behe, seorang profesor biokimia
terkemuka, membuat komentar berikut mengenai
aspek kimia pada mata dn teori evolusi, dalam
bukunya Darwin’s Black Box:
Kini kotak hitam “penglihatan” telah terbuka, cukup
banyak ruanmg tersisa bagi penjelasan evolusi dan
kekuatannya, ketimabng sekedar menjelaskan anatomi
pada mata, sebagaimana dilakukan Darwin pada abad
ke-19. Setiap tahap dan struktur anatomi yang dianggap
begitu sederhana sesungguhnya memiliki proses biokimia
yang sangat rumit, tidak bisa dijelasksan dengan retorika.
(Michael J. Behe, Darwin’s Black Box, p. 22)
Akan tetapi, sebagaimana telah kita saksikan, teori
evolusi tak mampu menjelaskan sistem tunggal dalam
satu sel hidup, apalagi menjelaskan hidup keseluruhan.
Dengan menggugurkan anggapan bahwa hidup itu
“sederhana”, ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa
“manusia” adalah fakta yang sangat penting.
Hidup bukanlah hasil kejadian tak terencana.
Hidup adalah hasil penciptan yang sempurna.
Hasil penciptaan sempurna oleh Pencipta Maha
Tinggi yang menjadikan hidup, Tuhan Semesta Alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar